Aktivitas di alam terbuka sering
memunculkan situasi darurat. Tersesat, terhadang cuaca buruk, atau
kehabisan bekal. Jangan panik, tumbuhan liar hutan menyediakan aneka
daun, buah, umbi, batang yang bisa dimakan, asalkan kita mengenal
ciri-cirinya.
Untuk
mengetahui jamur itu beracun atau tidak, bisa dilihat dari bentuk,
warna, dan tempat tumbuhnya. Sementara di laboratorium, bisa dilakukan
analisis secara kimiawi maupun dengan hewan percobaan. Tetapi jika
sedang dihadapkan pada masalah mendesak survival di hutan
belantara, mustahil bisa pergi ke laboratorium dulu untuk memastikan
apakah jamur yang ditemukan itu beracun atau tidak. Karena itu kita
perlu mengenal jamur-jamur yang biasa dikonsumsi masyarakat.
Kalau Anda mengaku pencinta alam yang doyan menempuh rimba atau mendaki gunung, pasti kenal dengan istilah survival, yaitu upaya untuk bisa bertahan hidup di alam liar. Pengetahuan survival wajib dikuasai oleh para petualang untuk menghadapi situasi darurat lantaran kehilangan orientasi atau kehabisan bekal.
Kiat hidup darurat ini penting, soalnya alam kerap sulit diprediksi perilakunya, walaupun sejak awal Anda telah mempersiapkan segala sesuatu secermat mungkin. Misalnya peta lokasi, kompas, global positioning system (alat untuk mengetahui posisi sesaat dengan bantuan satelit), alat komunikasi (HT,HP), bekal, dan obat-obatan.
Dengan pengetahuan survival yang andal, Anda seperti mempunyai jurus pamungkas yang sewaktu-waktu bisa dikeluarkan di saat posisi terjepit. Sebagian dari ilmu survivalitu adalah pengetahuan tentang aneka tumbuhan liar yang layak dan aman untuk dimakan.
Menurut para ahli, 10% dari keseluruhan jenis tumbuhan berbunga di dunia ada di Indonesia. Artinya kita memiliki kurang lebih 25.000 jenis tumbuhan berbunga. Jika ditambah dengan tumbuhan tak berbunga dan jamur, maka jumlahnya akan berlipat-lipat. Dari keseluruhan jenis tumbuhan itu ada yang beracun, ada yang bisa dimakan, dan ada yang disarankan untuk dimakan.
Kiat hidup darurat ini penting, soalnya alam kerap sulit diprediksi perilakunya, walaupun sejak awal Anda telah mempersiapkan segala sesuatu secermat mungkin. Misalnya peta lokasi, kompas, global positioning system (alat untuk mengetahui posisi sesaat dengan bantuan satelit), alat komunikasi (HT,HP), bekal, dan obat-obatan.
Dengan pengetahuan survival yang andal, Anda seperti mempunyai jurus pamungkas yang sewaktu-waktu bisa dikeluarkan di saat posisi terjepit. Sebagian dari ilmu survivalitu adalah pengetahuan tentang aneka tumbuhan liar yang layak dan aman untuk dimakan.
Menurut para ahli, 10% dari keseluruhan jenis tumbuhan berbunga di dunia ada di Indonesia. Artinya kita memiliki kurang lebih 25.000 jenis tumbuhan berbunga. Jika ditambah dengan tumbuhan tak berbunga dan jamur, maka jumlahnya akan berlipat-lipat. Dari keseluruhan jenis tumbuhan itu ada yang beracun, ada yang bisa dimakan, dan ada yang disarankan untuk dimakan.
Tak beracun = dimakan satwa
Untuk mengetahui apakah suatu jenis tumbuhan di hutan aman atau tidak untuk dimakan, ada beberapa kunci yang bisa dijadikan pegangan.
Untuk mengetahui apakah suatu jenis tumbuhan di hutan aman atau tidak untuk dimakan, ada beberapa kunci yang bisa dijadikan pegangan.
Tumbuhan yang daun, bunga, buah, atau
umbinya biasa dimakan oleh satwa liar, adalah tumbuhan yang tidak
beracun. Jadi kita bisa mengkonsumsinya. Sementara, tumbuhan yang berbau
tidak sedap dan bisa membuat pusing, serta tidak disentuh oleh binatang
liar, sebaiknya jangan disentuh. Juga tumbuhan bergetah yang membikin
kulit gatal, dianjurkan untuk dihindari.
Tumbuhan lain yang perlu disingkirkan
adalah tanaman yang daunnya bergetah pekat, berwarna mencolok, berbulu,
atau permukaannya kasar. Tanaman dengan daun yang keras atau liat juga
jangan dikonsumsi. Jika mendapatkan tumbuhan kemaduh (Laportea stimulans) waspadalah lantaran bulu pada daunnya membuat kulit gatal dan panas.
Sementara itu beberapa jenis tumbuhan
yang mungkin ditemui di hutan dan dapat dimakan meliputi beragam jenis.
Di antaranya keluarga palem-paleman, misalnya kelapa, kelapa sawit,
sagu, nipah, aren, dan siwalan. Bukan hanya bagian umbutnya (bagian
ujung batang muda dan berwarna putih) yang bisa dimakan, tapi juga
buahnya (seperti kelapa dan siwalan).
Jenis jambu-jambuan yang masuk dalam keluarga Myrtaceae juga banyak dijumpai di hutan. Ciri-ciri Myrtaceae adalah daunnya berbau agak manis jika diremas. Bunganya memiliki banyak sekali benang sari dengan buah yang enak dimakan.
Tumbuhan semak dari keluarga begonia juga
bisa jadi penyelamat dalam keadaan darurat. Daun begonia umumnya
berbentuk jantung tidak simetris. Beberapa jenis dijadikan tanaman hias.
Bila tangkai daunnya yang masih muda dikupas dan dimakan, rasanya masam
dan sedikit pahit.
Beberapa jenis keladi umbinya bisa
dimakan, meski pada jenis lain umbinya menyebabkan gatal di mulut dan
bibir. Untuk itu dianjurkan untuk tidak sembarangan melahap keladi
hutan. Sebaiknya dicoba dulu dalam jumlah kecil. Hindari makan iles-iles
(Amorphophallus sp.)
Tumbuhan merambat dan melilit di pohon
lain, bisa dimakan jika lilitan batang ke arah kanan (searah dengan
jarum jam). Di antaranya gembili (Dioscorea aculeata), gembolo (Dioscorea bulbifera),
ubi rambat. Tapi bila arah lilitannya ke kiri (berlawanan arah jarum
jam) dan batangnya berduri, harus ekstrahati-hati. Jenis yang kedua ini
misalnya gadung (Dioscorea hispida), yang beracun, walau tetap dapat dimakan setelah melalui proses pengolahan khusus.
Sementara keluarga rumput-rumputan
seperti tebu dan beberapa jenis bambu, rebungnya enak dimakan. Demikian
pula pisang hutan bisa langsung dikonsumsi.
Di tempat yang lembap dan tinggi, jenis
paku-pakuan tunas dan daun mudanya enak dimakan. Tumbuhan lain yang
buahnya juga bisa dimakan misalnya markisa (Passiflora sp.). Markisa ini adalah tumbuhan merambat dengan bunga khas. Beberapa anggota keluarga sirsak (Annonaceae), misalnya Annona muricata, daging buahnya segar. Buah lainnya semisal senggani (Melastoma sp.), arbei hutan (Rubus), dan anggur hutan.
Hindari warna mencolok
Selain tumbuhan di atas, jamur juga bisa menjadi dewa penyelamat bila tersesat. Menurut literatur, sudah ditemukan 38.000 jenis jamur di seantero dunia. Di antaranya ada yang enak dimakan, tapi sayang, yang tidak boleh dimakan karena beracun lebih banyak lagi. Tidak heran bila budaya makan jamur yang layak konsumsi konon sudah ada sejak jaman Mesir Kuno.
Selain tumbuhan di atas, jamur juga bisa menjadi dewa penyelamat bila tersesat. Menurut literatur, sudah ditemukan 38.000 jenis jamur di seantero dunia. Di antaranya ada yang enak dimakan, tapi sayang, yang tidak boleh dimakan karena beracun lebih banyak lagi. Tidak heran bila budaya makan jamur yang layak konsumsi konon sudah ada sejak jaman Mesir Kuno.
Untuk
mengetahui jamur itu beracun atau tidak, bisa dilihat dari bentuk,
warna, dan tempat tumbuhnya. Sementara di laboratorium, bisa dilakukan
analisis secara kimiawi maupun dengan hewan percobaan. Tetapi jika
sedang dihadapkan pada masalah mendesak survival di hutan
belantara, mustahil bisa pergi ke laboratorium dulu untuk memastikan
apakah jamur yang ditemukan itu beracun atau tidak. Karena itu kita
perlu mengenal jamur-jamur yang biasa dikonsumsi masyarakat.
Untuk menghindari makan jamur liar
beracun, perlu diketahui ciri-cirinya. Yaitu, warna payungnya gelap atau
mencolok misalnya biru, kuning, jingga, merah. Perkecualian untuk jamur
kuping dengan payung coklat yang toh juga dapat dimakan.
Bau tidak sedap lantaran kandungan asam sulfida atau amonia juga sekaligus menunjukkan jamur tersebut tak layak konsumsi.
Tahukah Anda, beberapa jenis jamur ada yang memiliki cincin atau cawan pada tangkainya, misalnya jenis Amanita muscaria,
dalam bahasa Jawa disebut supa-upas. Bentuknya seperti payung putih
kekuningan, bagian payungnya warna merah bintik-bintik putih. Awas,
racun pada jamur ini tergolong racun kuat. Beda dengan jamur merang (Volvariella volvacea), meski mempunyai cincin tetapi bisa dimakan.
Jamur beracun umumnya tumbuh di tempat
kotor, misalnya pada kotoran hewan dsb. Mereka dapat berubah warna jika
dipanasi. Jika diiris dengan pisau perak atau digoreskan pada perkakas
perak akan meninggalkan warna biru. Warna biru ini disebabkan kandungan
sianida atau sulfida, yang beracun. Sementara nasi akan berwarna kuning
jika dicampur jamur beracun. Petunjuk lain, ia juga tidak dimakan oleh
hewan liar.
Repotnya jenis jamur ini juga berbahaya
kalau sampai sporanya menempel pada kulit, karena dapat menyebabkan
kulit gatal, bahkan melepuh. Bagaiamana ciri-ciri orang yang keracunan
jamur? Selidikilah, apakah ia pusing, perut sakit terutama ulu hati,
mual, sering buang air kecil, tubuh lemas, pucat? Jika ia muntah, adakah
darah pada muntahannya? Racun akibat jamur cukup ganas juga, kalau
tidak tertolong korban bisa meninggal setelah 3 – 7 hari.
Sebelum dimakan, tumbuhan liar di hutan
sebaiknya dimasak dulu untuk mengurangi dampak buruk seperti diare dan
alergi. Bagaimana kalau sedang coba-coba makan tumbuhan hutan lantas
keracunan? Masih ada upaya menetraliskan. Upayakan untuk memuntahkannya
dengan jalan “dipancing-pancing”. Jika sudah muntah minumlah air kelapa.
Pil norit mungkin bisa juga membantu mengurangi kadar racun, kalau ada.
A
0 Komentar untuk "Tumbuhan Penyelamat di Saat Darurat Saat Dihutan"